wadah baru
Aku mencoba mengumpulkan diriku dengan cara menghapus satu persatu akun lama sosial media. Di mana aku yang dulu pernah hidup dan tersisa. Ini lebih seperti mencoba menghapus jejak dan menghilang daripada mengoleksi diriku yang terpisah dan terbelah.
Aku selalu terpisah menjadi bagian-bagian dan tidak pernah utuh. Kadang-kadang aku adalah sebuah postingan, kadang-kadang aku tulisan sepenggal di belakang amplop bekas, tapi kadang-kadang aku hanya pikiran selintas di kepala dan tidak pernah terucap. Aku menjelma apa saja yang aku kehendaki dan tidak kukehendaki, jadi siapa yang paling mengenal aku kalau diriku sendiri bukan hanya satu.
Aku punya keinginan untuk bisa meninggalkan sesuatu; buku, cerita, dokumentasi. Tentang diriku yang bisa dibaca banyak orang supaya aku bisa hidup dalam kepala mereka dan menjelma jadi sesuatu yang baru. Tetapi, aku tidak ingin hidup dua kali seperti sebuah nama yang ditetapkan orangtua, bukan nama yang kita pilih sendiri untuk mewakili diri dalam perjalanan hidup panjang ini. Nama yang selama ini akrab di telinga dan selalu kita anggap diri sendiri tidak lain dan tidak bukan cuma julukan atas kepemilikan. Kita bukan punya siapa-siapa. Aku ingin hidup sebagaimana aku ingin dilihat hidup, suatu waktu angkuh dan puas lalu di waktu lain kerdil dan menderita. Aku bukan hanya aku tetapi aku dan aku.
Mengapa setelah mati kita cenderung ingin meninggalkan sesuatu dan dikenal? Ya karena manusia seperti aku ini lemah dan tidak punya kuasa. Hidup hanya sehirupan napas, lalu buyar semua jalan yang pernah kita damba. Mungkin saja, mungkin, ada yang berkenan menyewakan isi kepalanya untukku hidup di dunia baru atau menempati tubuh dengan pikiran di mana ia adalah manusia baru. Itu bukan tidak mungkin tapi mungkin juga tidak.
Aku terus saja menyebar di segala arah. Aku tertinggal pada masa sekolah seorang anak laki-laki yang mencuri ciuman pertama. Aku dikutuk dalam kenangan seseorang di kolam renang. Aku mati di cerita cinta pertama seorang anak laki-laki yang berpikir dirinya tak akan pernah jatuh cinta. Juga di sore hari ketika teman-temanku belajar merias atau di dalam kelas saat semua orang sedang istirahat sejenak. Aku hidup di gang rumah yang mulai bosan kuingat, aku hidup di pekarangan masjid, aku hidup di jalan raya yang sedikit menanjak. Di dalam kendaraan umum berangkat dan sepulang sekolah, di pagar lantai dua, di tengah lapangan sekolah, di toko tempat aku bekerja, di tahun-tahun aku diam dan bercita-cita, aku di mana-mana. Pun di waktu paling jauh, aku meletakkan diriku seperti saat-saat menyedihkan jadi siswa bodoh dan di waktu paling berat dalam hidupku. Aku di mana-mana dan di manapun aku tidak ada satu yang bisa kuanggap aku.
Dalam penghidupan, isi tak jauh lebih penting daripada wadah. Seandainya isiku memang cair dan bisa berada di mana saja, keputusanku untuk menyiramnya di berbagai waktu adalah hal paling baik. Aku air yang terus mengalir sejak ibuku melahirkan sebuah anak sungai. Aku membayangkan diriku berlubang-lubang dan air muntah darinya dan aku tidak pernah bisa menutup satu persatu karena terlalu banyak lubang di sana seperti apel busuk dan ulat gemuk. Tapi tak apa, pada akhirnya hanya aku satu-satunya yang mampu menyumbat luka-luka itu. Di sini, dari dalam sini akan ada satu wadah baru yang lebih luas daripada aku dan mampu mrnampung segala aku dan aku. Di sini, nanti di dalam sini.


Komentar
Posting Komentar