menulis, kata saya
Kalau dilihat, blog awal saya memang tertanggal pada tahun ini tapi sebenarnya saya sudah mengisi blog selama lima tahun belakangan. Sejak awal 2018, saya menambah hobi menulis di blog tentang keresahan saya seperti buku harian. Tetapi sejak tahun lalu hingga tahun-tahun sebelumnya, tulisan itu saya tarik dari peredaran.
Saya pikir, tulisan saya kekanak-kanakan. Lalu, saya ketahui bahwa kita semua tidak bisa lepas dari karakter masa kanak-kanak. Walaupun begitu, toh tetap saya tarik juga. Entah mengapa saya khawatir mencurahkan terlalu banyak, saya bimbang, apakah membagikan diri sendiri ke ruang umum dapat saya tanggung konsekuensinya? Saya masih belum dapat membedakan yang mana yang harus dibagikan dan disimpan. Di sisi lain, kecintaan saya terhadap menuangkan cerita tidak dapat saya bendung. Saya khawatir informasi mengenai saya diambil untuk merugikan saya, kemudian saya berpikir bahwa saya bukan siapa-siapa.
Siapa saya? Cuma manusia yang masih saja kebingungan hendak apa atau ke mana. Walau sudah hampir seperempat abad tinggal di dunia, saya masih enggak paham banyak hal. Saya cenderung meniru sesuatu termasuk keputusan menulis blog menggunakan Saya dan bukannya Aku.
Ada pada suatu masa
Suatu kali saya pernah berpikir kalau saja seseorang membaca tulisan saya ini bahkan ketika saya sudah tiada. Seseorang yang memiliki rasa penasaran seperti saya, yang ingin dekat dengan sesuatu yang asing. Mungkin saya akan bergumam dalam kubur, betapa indahnya tulisan saya. Tetapi setiap kali membaca tulisan-tulisan itu lagi saya selalu ingin menariknya dari khalayak. Konten ini, pikir saya, tidak layak.
Saya sebisa mungkin menulis bukan hanya untuk mencatat tetapi menyampaikan pesan. Pesan yang sederhana saja dan kalau tidak bisa, paling tidak saya dapat menghibur. Saya suka menghibur orang-orang yang saya sayangi, saya suka membuat mereka tertawa. Saya lebih suka ketika saya tertawa keras sebab lelucon saya sendiri.
Tujuan Menulis
Tujuan saya menulis mulanya untuk mencatat, mengarsip, mengingat kejadian-kejadian di masa ini untuk dapat dibawa ke masa depan. Catatan bagi saya merupakan transportasi yang dapat membawa hal berharga dari masa lalu ke masa depan. Buku kurang efisien untuk menyimpan catatan itu, tapi media sosial atau wadah seperti ini pun punya kekurangan. Saya bimbang lagi dan tersenyum menyadari betapa saya mudah goyah.
Apakah informasi mengenai saya aman? Apakah seseorang bisa mempergunakan catatan ini untuk melakukan kejahatan? Saya kacau, benar-benar kacau. Pada akhirnya, saya pun tetap melanjutkan.
Malu Menulis
Orang-orang kira saya selalu punya cukup keberanian, tapi sebenarnya saya punya lebih banyak rasa malu daripada berani. Termasuk urusan menulis ini. Saya malu tulisan saya dibaca tapi tetap ingin menulis di mana-mana. Saya khawatir ditertawakan tapi sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar peduli dengan saya. Saya kerap takut bila ada yang dapat membaca saya, ya, membaca diri saya melalui tulisan ini. Saya takut ketika seseorang menyimpulkan diri saya dengan cara yang salah. Apakah orang lain juga begitu? Apakah orang lain juga khawatir ada yang menafsirkan dirinya dengan bahasa yang kurang tepat?
Rupanya saya punya banyak kontradiksi yang akhirnya membuat saya diam di tempat. Sayang sekali kalau saya melewatkan banyak hal karena bingung tetapi jalan ragu-ragu juga tidak baik. Nah kan, apa saya bilang!
Saya malu ketika orang terdekat saya mengetahui apa yang saya rasakan atau pikirkan sebenarnya. Saya lebih takut bila mereka menyadari betapa lemah dan tak berdayanya saya, itu sebab mengapa saya enggan menulis di sosial media. Saya punya banyak kekhwatiran tapi justru akan lega kalau pembaca adalah orang yang tidak saya kenal.
Hobi menulis
Saya tidak pernah sadar kalau saya suka menulis, setelah saya SMA kegiatan ini makin sering saya lakukan dan kalau tidak saya lakukan perasaan saya akan nelangsa. Lalu, tiba-tiba saja sudah jadi hobi dan aktivitas sehari-hari. Apakah tulisan saya sudah berkembang? Saya hanya bisa bilang, "Sedikit lebih baik."
Sedikit justru lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Selain menulis harian, saya kadang menulis karangan cerita. Namun sampai hari ini, saya tidak pernah menyelesaikan cerita manapun. Begitulah saya, si orang bingung. Saya suka menulis tapi akan menulis apapun yang saya suka. Memangnya bisa dapat uang dari kesukaan yang enggak jelas ini? Saya terkekeh.
Dulu di masa sekolah entah kenapa saya tidak pernah dapat tugas membuat atau menulis blog ya? Saya heran setengah mati! Orang lain kebanyakan menulis di blog karena tugas dari sekolah tapi kenapa guru saya tidak pernah memberi tugas ini padahal kakak kelas saya dapat? Sejak SMP sampai SMA, tidak satu gurupun yang memberi kelas saya tugas semacam ini. Ketika di kelas 12, kelas sebelah dapat tugas membuat cerita di Wattpad saya iri bukan main. Kenapa guru tersebut tidak mengajar di kelas saya? Itu sebabnya saya terlambat menulis blog. Saya memulainya justru setelah saya lulus sekolah. Menulis blog merupakan keinginan saya di masa lalu, saya senang kini sudah menggapainya dan memupuk kegiatan ini hingga hari ini.
Akhir
Saya tidak pernah menentukan tulisan seperti apa yang saya bagikan, harus ada ba, bi atau bunya. Saya hanya ingin menulis dan tulisan saya nyaman dibaca. Itu saja. Saya ingin disukai walau hanya oleh seorang dua orang pembaca sebagai sosok yang hidup di suatu tempat. Itu saja, saya kira hanya itu saja.
Kelak, saya akan menulis lebih baik. Catatan harian maupun karangan cerita. Untuk saya sendiri, untuk saya sendiri.
Minggu
03 Juli 2022

Komentar
Posting Komentar