Late Birthday Letter
It's suddenly 24. Feels so weird, time flew as i blink my eyes. Happy Birthday to me. Wish me all the best, wish all the dream comes true, and all the struggle meet the sweets.
Review umur 23 tahun ya.
Alot of good thing happens, ups and downs i count it as a very-well-done job because it gives a good memory to remember. Mulai dari yang bikin senang seperti bisa beli 10 buku, fee les yang lumayan sampai aku bisa beli proper skincare bahkan beli barang-barang lainnya. Jalan-jalan sama sobat baik atau jajan sama adik. Sampai berurusan sama orang yang bikin kesal, di-catcalling tukang Mie Ayam, minus mata nambah bahkan meleparkan diri kepada scammer karena sengotot itu mau akun facebook lamanya balik. Hahaha.
Satu tahun itu nggak sebentar, aku mensyukuri setiap hari yang sudah kulalui. Termasuk hari-hari di mana aku kesepian seolah cuma aku sendiri yang tengah menghadapi ini, seolah tidak ada yang mencintaiku dan tidak ada yang benar-benar peduli padaku. Hari di mana aku nangis karena aku nggak mau melanjutkan perjalanan ini lagi karena terasa berat. Adu argumen dengan orang yang sama, menyakiti dan disakiti oleh orang yang sama, rasanya seperti terjebak tapi tidak dapat lepas. Cinta itu aneh, keluarga juga aneh. Tapi semakin aku belajar tentang menjadi manusia, keanehan itu juga terasa familiar, keanehan yang ternyata adalah bagian dari diri manusia. Kalau kita adalah arus air yang deras, hidup ini adalah pusaran air yang membawa kita masuk ke dalam. Jauh ke dasar laut yang disebut kehidupan.
Semakin aku merasa bahwa semua ini aneh, nggak jelas dan membingungkan maka semakin dekat aku dengan esensi hidup itu sendiri. Ya, mungkin hidup adalah nama lain dari aneh.
Tahun lalu di umur ganjil itu, aku berharap bisa berubah menjadi sosok yang lebih dewasa, matang dan tahu apa yang diinginkan dalam hidup. Tapi untuk menjadi sosok itu rupanya setahun saja tidak cukup, sangat kurang, jadi aku melanjutkan untuk jadi sosok itu seberapapun lama waktu yang dibutuhkan. Kalau tahun ini belum jadi, lanjut sampai tahun depan. Kalau tahun depan masih belum jadi, lanjut lagi tahun berikutnya. Begitu terus sampai akhir hayat karena sepanjang masih bernapas, selama itu pula pengajaran terus berlangsung. Sebenarnya yang ingin aku capai bukan menjadi apa atau mendapatkan apa, melainkan terus belajar memperbarui diri le bentuk-bentuk yang beragam.
Sebelumnya, aku pikir tahun baru, umur baru artinya kita juga harus baru. Baru dalam arti pemikiran, visi, tujuan bahkan kebiasaan. Aku nggak tahu kalau kebaruan di awal tahun itu cuma konsep omong kosong karena setiap kali melalui awal tahun dan umur baru aku cuma melewati waktu dengan cara yang sama. Bangun di jam yang sama, tidur di jam yang sama, aku juga masih malas olahraga. Aku terus memperbarui target tahunan yang nggak pernah tercapai setiap tahunnya cuma untuk melengkapi konsep Tahun Baru, Hidup Baru. Duh, kenyataannya nggak ada yang berubah, kan. Cuma karena angka di penanggalan berubah, umur juga bertambah, tidak serta merta kita langsung berubah. Perubahan butuh waktu, semua orang tahu itu tapi nggak semua orang tahu kalau konsep kebaruan itu tak mesti hadir di awal, akhir atau pada momen yang sama sekali tidak berhubungan dengan kemampuanmu berpikir.
....
Anyway,
<3

Komentar
Posting Komentar